MINDA ADALAH KEBERANIAN DAN KEKUATAN UNTUK MENGHADAPI SEGALA CABARAN !
28 Ogos, 2013
RAHSIA KESEMPATAN
Suatu pagi tidak jauh dari sebuah pasar, tampak seorang pemuda sedang tidur bermalas-malasan. Walau pasar dipenuhi oleh para penjual dan pembeli yang berlalu lalang, namun si pemuda tampak tenang-tenang saja dengan kemalasannya...
Kebetulan lewatlah seorang pedagang yang baru saja berhasil menjual dagangannya. Si pedagang tampak keheranan melihat tingkah pemuda tadi. Ia menghampiri dan bertanya, "Anak muda, pagi begitu indah. Semua orang sibuk bekerja, tapi mengapa engkau hanya tidur-tiduran di sini?" Sambil memicingkan sebelah mata, si pemuda menjawab dengan suara malas, "Aku sedang menunggu kesempatan."
Mendengar jawaban seperti itu, si pedagang tampak keheranan. "Apakah kau tahu seperti apa bentuk kesempatan yang kamu tunggu itu?" Pemuda itu menggelengkan kepala. "Kata orang, aku harus menunggu kesempatan datang, baru kemudian nasibku bisa berubah baik. Lalu aku bisa kaya, bisa sukses, bisa memiliki apa saja yang aku mau. Karena itulah aku dengan sabar menunggu kesempatan datang di sini," jelas si pemuda.
"Bentuknya saja kamu tidak tahu, buat apa kamu tunggu? Lebih baik ayo ikut membantu aku melakukan hal berguna. Kelak nasibmu akan berubah jika kau mau belajar mengikuti jejakku," bujuk si pedagang.
"Ahh, omong kosong.. Pergi sana! Jangan menggangguku lagi!" teriak si pemuda, kesal. Karena dihardik, si pedagang buru-buru pergi meninggalkan si pemuda itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sesaat kemudian, datang seorang kakek tua menghampiri si pemuda. Kakek tua masih sempat memandangi langkah kepergian si pedagang. Lalu ia menoleh kepada si pemuda. "Hai.. anak muda. Aku perhatikan, sudah lama kamu tidur-tiduran menunggu kesempatan di tempat ini. Apa kau sudah mendapatkan kesempatan itu?"
Si pemuda dengan malas menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lho, bukankah kesempatan itu baru saja menghampirimu? Mengapa tidak kau tangkap, tapi malah kau usir? Orang yang kau usir tadi adalah seorang pedagang besar dari negeri seberang yang kaya raya. Mengapa tidak kau terima ajakannya..?" si kakek keheranan. Mendengar ucapan itu, si pemuda seolah baru tersadar dari mimpinya. Ia bergegas bangkit dan berteriak-teriak memanggil si pedagang tadi. Namun sayang, pedagang itu sudah tidak tampak lagi. Walau begitu, si pemuda tetap memanggil-manggil dia.
"Percuma teriak-teriak. Kesempatan itu sudah berlalu," ujar si kakek. Pemuda itu tampak sedih dan ingin menangis. Ia tertunduk lesu dan tak tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan kesempatan. Karena pikirannya yang sempit, kesempatan berlalu begitu saja dan penantiannya pun sia-sia belaka. "Aku harus bagaimana, Kek? Apakah seumur hidup aku tidak akan memiliki kesempatan lagi?" tanya si pemuda penuh penyesalan.
"Kesempatan datang pada setiap orang tidak hanya sekali seumur hidup. Bila yang satu terlewatkan, suatu ketika pasti akan datang kesempatan lain," jawab si kakek dengan bijak. "Tetapi dia tidak datang dengan sendirinya. Kesempatan harus diciptakan dan diperjuangkan! Kau juga harus tahu, tidak ada satu saat pun yang benar-benar tepat untuk memulai mencari dan menemukan kesempatan. Makanya anak muda, jangan hanya menunggu. Mulailah berusaha, bekerja, berjuang. Kesempatan pasti akan tiba pada waktunya. Dan saat kesempatan tiba di hadapanmu, kamu telah siap!"
Dengan gembira, si anak muda mengucapkan terima kasih. Walau di dalam hatinya ada penyesalan karena telah kehilangan kesempatan, tapi dia tahu bahwa bila dirinya mulai berusaha dan berjuang, maka suatu hari nanti kesempatan pasti datang padanya.
Netter yang luar biasa,
Hidup adalah pilihan. Kita sebagai manusia mempunyai hak untuk memilih, termasuk memilih kesempatan apa saja yang kita inginkan, dengan cara memutuskan, menciptakan, dan memperjuangkan kesempatan itu.
Memutuskan berarti menciptakan komitmen untuk mendapatkan kesempatan melalui keaktifan kita. Menciptakan berarti mengambil langkah-langkah pasti supaya peluang-peluang tercipta atau mendatangi kita karena sikap proaktif. Sementara memperjuangkan berarti membuat usaha-usaha yang benar supaya kesempatan dapat dimanfaatkan dan memberikan hasil seperti yang kita inginkan.
Kadangkala, kesempatan itu pada awalnya tampak sepele sekali. Tapi jangan remehkan kesempatan sekecil apa pun. Seringkali pencapaian besar justru diawali dari kesempatan-kesempatan kecil, yang umumnya dilewatkan banyak orang. Dan benar, hanya orang-orang yang mampu mengenali kesempatan saja yang bakal mendapatkan manfaat terbesar darinya. Mereka yang berhasil biasanya jeli memanfaatkan kesempatan-kesempatan kecil dan kemudian melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk mendapatkan manfaat terbesar. Merekalah yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung. Semoga Anda termasuk orang yang beruntung itu!
SECANGKIR KOPI
Alkisah, sebuah liburan panjang diisi oleh sekumpulan sahabat untuk
melakukan reuni. Sudah dua puluh tahun lebih mereka berpisah dan baru
tahun itu mereka bisa berkumpul. Untuk itu, mereka sepakat untuk menemui
gurunya ketika bersekolah dulu. Mereka hendak berterima kasih, bahwa
dengan ajaran dari sang guru, mereka kini telah sukses dengan bidangnya
masing-masing.
Maka, di sebuah sore yang hangat, mereka pun datang bersama-sama mengunjungi sang guru. Mereka saling bercanda, mengenang masa kenakalan ketika remaja. Kemudian satu sama lain mulai berkisah tentang perjuangan hidup yang mereka lalui. Ada yang sudah jadi bos besar di perusahaan multinasional. Ada pula yang menjadi pengusaha sukses di bidang transportasi. Ada pula yang mengaku sudah melanglang buana ke hampir semua benua untuk memenuhi impiannya.
Melihat percakapan seputar kesuksesan yang sudah hampir melampaui batas, sang guru pun meminta izin untuk ke belakang rumah. Rupanya, ia mengambil beberapa cangkir kopi dan satu teko berisi kopi panas yang siap diseduh. Uniknya, cangkir yang diberikan terdiri dari beragam bentuk dan terdiri pula dari beragam bahan. Ada yang dari keramik, kristal, kaca, melamin, dan ada pula yang hanya terbuat dari plastik biasa.
“Sudah, sudah.. Ngobrolnya berhenti dulu. Ini Bapak sudah siapkan kopi buat kalian,” sebut sang guru memecah keasyikan obrolan mereka.
Hampir serempak, mereka kemudian berebut cangkir terbaik yang bisa mereka dapat. Akhirnya, di meja yang tersisa hanya satu buah cangkir plastik yang paling jelek. Lantas, setelah semua mendapatkan cangkirnya, sang guru pun mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya.
“Mari, silakan diminum,” ajak sang guru, yang kemudian ikut mengisi kopi dan meminum dari cangkir terakhir yang paling jelek. “Bagaimana rasanya? Nikmat kan? Ini dari kopi hasil kebun keluarga saya sendiri.”
“Wah, enak sekali Pak.. Ini kopi paling sedap yang pernah saya minum,” timpal salah satu murid yang langsung diiyakan oleh teman yang lain.
“Nah, kopinya enak ya? Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan. Kalian hampir saja berebut untuk memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir paling jelek ini?” tanya sang guru.
Murid-murid itu pun saling berpandangan. Mereka bertanya-tanya, apa maksud gurunya bertanya seperti itu. Maka sang guru pun kembali meneruskan ucapannya. “Tak salah memang untuk memilih apa saja yang terbaik. Malahan, itu sangat manusiawi. Tapi masalahnya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Akibatnya, pikiran kalian terfokus pada cangkir. Padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkir, melainkan kopinya. Dan, kalian sendiri mengaku bahwa kopi ini adalah kopi terenak. Jadi, tolong pikirkan baik-baik. Hidup kita seperti kopi dalam cangkir tersebut. Sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kalian miliki.”
Sang guru pun kembali meneruskan wejangannya. “Karena itu, jangan pernah biarkan cangkir memengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, sebab kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus, dan pekerjaan mapan yang kalian banggakan tadi merupakan jaminan kebahagiaan. Namun sejatinya, kualitas hidup kita ditentukan oleh ‘apa yang ada di dalam’ bukan ‘apa yang kelihatan dari luar’. Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan rasa bahagia dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Jadi, kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.”
Semua murid itu pun tertunduk malu. Mereka merasakan inilah reuni yang membuat mereka kembali “membumi”. Mereka pun berjanji, akan menjadikan pembelajaran cangkir kopi tersebut untuk menjadikan sukses yang diraih memberi kemanfaatkan kepada lebih banyak orang, dan bukannya menjebak mereka dalam kesombongan.
Sahabat Luar Biasa...,
Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kekayaan, kesuksesan, keterkenalan, adalah sebuah predikat yang disandang. Tak salah jika kita mengejarnya. Tak salah pula bila kita ingin memilikinya. Namun, semua itu tak akan kita miliki selamanya. Semua hanya akan langgeng jika kita sebagai subjek—alias pemilik sejati kekayaan yang sebenarnya—memiliki kualitas dalam diri yang bersih, bernilai, bermartabat, dan penuh kebersahajaan.
Ibarat pepatah, manusia mati meninggalkan nama, maka nama seperti apa yang akan dikenang orang, itulah cerminan sejati apa yang sudah kita berikan pada sekeliling kita selama ini. “Nama” itulah “isi kopi” sesungguhnya yang harus kita jaga, rawat, dan sekaligus kita bagi untuk mendatangkan kemanfaatan pada lebih banyak orang.
Mari, kita jadikan “isi” dalam diri kita sebagai cerminan positif yang bisa selalu kita hadirkan untuk mendatangkan keberkahan, kebahagiaan, dan kesuksesan sejati
Maka, di sebuah sore yang hangat, mereka pun datang bersama-sama mengunjungi sang guru. Mereka saling bercanda, mengenang masa kenakalan ketika remaja. Kemudian satu sama lain mulai berkisah tentang perjuangan hidup yang mereka lalui. Ada yang sudah jadi bos besar di perusahaan multinasional. Ada pula yang menjadi pengusaha sukses di bidang transportasi. Ada pula yang mengaku sudah melanglang buana ke hampir semua benua untuk memenuhi impiannya.
Melihat percakapan seputar kesuksesan yang sudah hampir melampaui batas, sang guru pun meminta izin untuk ke belakang rumah. Rupanya, ia mengambil beberapa cangkir kopi dan satu teko berisi kopi panas yang siap diseduh. Uniknya, cangkir yang diberikan terdiri dari beragam bentuk dan terdiri pula dari beragam bahan. Ada yang dari keramik, kristal, kaca, melamin, dan ada pula yang hanya terbuat dari plastik biasa.
“Sudah, sudah.. Ngobrolnya berhenti dulu. Ini Bapak sudah siapkan kopi buat kalian,” sebut sang guru memecah keasyikan obrolan mereka.
Hampir serempak, mereka kemudian berebut cangkir terbaik yang bisa mereka dapat. Akhirnya, di meja yang tersisa hanya satu buah cangkir plastik yang paling jelek. Lantas, setelah semua mendapatkan cangkirnya, sang guru pun mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya.
“Mari, silakan diminum,” ajak sang guru, yang kemudian ikut mengisi kopi dan meminum dari cangkir terakhir yang paling jelek. “Bagaimana rasanya? Nikmat kan? Ini dari kopi hasil kebun keluarga saya sendiri.”
“Wah, enak sekali Pak.. Ini kopi paling sedap yang pernah saya minum,” timpal salah satu murid yang langsung diiyakan oleh teman yang lain.
“Nah, kopinya enak ya? Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan. Kalian hampir saja berebut untuk memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir paling jelek ini?” tanya sang guru.
Murid-murid itu pun saling berpandangan. Mereka bertanya-tanya, apa maksud gurunya bertanya seperti itu. Maka sang guru pun kembali meneruskan ucapannya. “Tak salah memang untuk memilih apa saja yang terbaik. Malahan, itu sangat manusiawi. Tapi masalahnya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Akibatnya, pikiran kalian terfokus pada cangkir. Padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkir, melainkan kopinya. Dan, kalian sendiri mengaku bahwa kopi ini adalah kopi terenak. Jadi, tolong pikirkan baik-baik. Hidup kita seperti kopi dalam cangkir tersebut. Sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kalian miliki.”
Sang guru pun kembali meneruskan wejangannya. “Karena itu, jangan pernah biarkan cangkir memengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, sebab kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus, dan pekerjaan mapan yang kalian banggakan tadi merupakan jaminan kebahagiaan. Namun sejatinya, kualitas hidup kita ditentukan oleh ‘apa yang ada di dalam’ bukan ‘apa yang kelihatan dari luar’. Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan rasa bahagia dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Jadi, kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.”
Semua murid itu pun tertunduk malu. Mereka merasakan inilah reuni yang membuat mereka kembali “membumi”. Mereka pun berjanji, akan menjadikan pembelajaran cangkir kopi tersebut untuk menjadikan sukses yang diraih memberi kemanfaatkan kepada lebih banyak orang, dan bukannya menjebak mereka dalam kesombongan.
Sahabat Luar Biasa...,
Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kekayaan, kesuksesan, keterkenalan, adalah sebuah predikat yang disandang. Tak salah jika kita mengejarnya. Tak salah pula bila kita ingin memilikinya. Namun, semua itu tak akan kita miliki selamanya. Semua hanya akan langgeng jika kita sebagai subjek—alias pemilik sejati kekayaan yang sebenarnya—memiliki kualitas dalam diri yang bersih, bernilai, bermartabat, dan penuh kebersahajaan.
Ibarat pepatah, manusia mati meninggalkan nama, maka nama seperti apa yang akan dikenang orang, itulah cerminan sejati apa yang sudah kita berikan pada sekeliling kita selama ini. “Nama” itulah “isi kopi” sesungguhnya yang harus kita jaga, rawat, dan sekaligus kita bagi untuk mendatangkan kemanfaatan pada lebih banyak orang.
Mari, kita jadikan “isi” dalam diri kita sebagai cerminan positif yang bisa selalu kita hadirkan untuk mendatangkan keberkahan, kebahagiaan, dan kesuksesan sejati
23 Mei, 2013
PINTAR ATAU SOMBONG
Pernahkah dalam sebuah organisasi, Anda menemukan seseorang
yang merasa paling hebat, merasa paling tahu segalanya, paling banyak
memberikan kontribusi? Ia merasa dirinya tidak perlu lagi belajar,
bahkan merasa menjadi tulang punggung organisasi. Seolah-olah bila tidak
ada dia, maka roda bisnis perusahaan akan berhenti.
Dalam pengalaman memberikan training bagi sebagian perusahaan, saya kerap menerima sharing dari
peserta yang mengatakan mereka kerap menemukan orang-orang dengan tipe
yang di atas. Bahkan ada yang mengatakan mengatasi karyawan yang
kompetensinya kurang dan mau belajar masih jauh lebih mudah dibandingkan mengatasi karyawan yang kompetensinya baik tetapi merasa sombong dan menyepelekan aspek pengembangan diri.
Melakoni peran sebagai seorang fasilitator dan trainer pengembangan diri, saya pernah mendengar salah satu pesan yang selalu saya ingat yaitu “Kamu harus terus belajar” .Belajar
tidak semata-mata dari buku, melainkan mau belajar dari orang lain.
Prinsip ini yang mendasari perjalanan saya sebagai seorang trainer. Saya
belajar banyak dari peserta saya setiap kali sesi dalam kelas. Saya
jadi teringat akan sebuah kisah yang menceritakan tentang dua panglima
perang. Kedua panglima perang ini diberi tugas untuk memimpin beberapa
pasukan dalam penyerangan ke dua tempat yang berbeda. Yang satu
ditugaskan ke wilayah barat, dan yang satu lagi ditugaskan ke wilayah
timur.
Setelah pergi berperang selama kurang lebih tiga hari, kedua panglima
ini pulang memberikan kabar kepada Kaisar di istana. Sebelum kedua
panglima ini memberikan laporannya, Sang Kaisar sudah mengetahui
hasilnya lewat seorang pengintai yang dikirim ke wilayah barat dan
timur. Sampailah pada saat panglima pertama memberikan laporannya, ia
mengutarakan dengan sangat baik, diplomatis, dan mengucapkan terima
kasih atas kepercayaan yang diberikan Kaisar kepada dirinya. Giliran
panglima kedua menyampaikan laporannya tiba, ia memulainya dengan
menyombongkan kemampuan dirinya yang berhasil memimpin pasukannya, dan
ia menganggap tanpa dirinya, pasukannya pasti sudah meninggal semua. Ia
menganggap dirinyalah sebagai kunci keberhasilan penyerangan.
Seolah-olah tidak ada panglima lain yang lebih baik dari dirinya.
Di atas kertas, Kaisar ini memuji keberhasilan kedua panglima ini dalam
memimpin sebuah misi istana. Akan tetapi pada saat penyampaian
informasi dari kedua panglima ini, sang Kaisar lebih terkesan dengan
panglima yang pertama dibandingkan yang kedua. Sang Kaisar akhirnya
berkata kepada panglima yang kedua, “Kamu memang pintar dalam
strategi, kamu juga baik dalam memimpin pasukan, tapi keberhasilan ini
bukan karena satu orang yaitu dirimu sendiri, melainkan kekompakan
pasukan Anda yang membuat ini berhasil. Kesombonganmu hari ini akan
menjatuhkan reputasimu di masa yang akan datang. Anda akan kehilangan
kepercayaan dari pasukan Anda, jika Anda masih berperilaku seperti ini!"
Banyak orang pintar, tapi ada yang mengatakan pintar saja tidak cukup.
Kemampuan Anda membawa diri dalam sebuah komunitas lewat tutur kata,
perilaku, di situlah kepintaran Anda diuji dan dilihat. Panglima kedua
memang pintar, akan tetapi di mata Kaisar hal itu tidak menjadi nilai
yang penting lagi karena perilakunya yang arogan dan menganggap dirinya
yang terbaik. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup. Jangan menganggap
karena kepintaran, kehebatan, pengalaman, lantas kita boleh meremehkan
orang lain. Akan tetapi jadilah pribadi yang dapat menunjukkan
penghargaan kepada orang lain. Banyak orang pintar, tapi sedikit yang
rendah hati. Jadilah rendah hati dan mau belajar dari orang lain. Selalu
ada tempat bagi yang rendah hati, tapi tidak bagi yang sombong.
Hampir beberapa petinggi perusahaan yang pernah berdiskusi dengan saya
mulai dari jajaran manager, general manager, bahkan sampai CEO
sekalipun, mereka memiliki kerendahan hati yang luar biasa untuk mau mendengarkan dan belajar dari orang lain.
Tidak sekalipun terlihat sisi kesombongan yang ditunjukkan lewat sikap
dan perilakunya. Mereka tidak merasa pintar, tapi mereka hanya ingin
berbagi apa yang pernah menjadi pengalaman mereka kepada orang lain, dan
tidak segan-segan mereka juga mau belajar dari staf maupun
supervisor-nya.
Apapun jabatan Anda saat ini, apapun gelar yang Anda miliki saat ini, setinggi apapun pendidikan Anda saat ini, jadilah pribadi yang memiliki nilai tidak hanya dari sisi intelektual tapi dari sikap dan perilaku yang baik.
Perusahaan tidak semata-mata mencari orang pintar saja, melainkan orang
yang memiliki karakter yang positif. Perusahaan tidak mencari robot
yang bisa mengerjakan sesuatu dengan cepat, melainkan mencari manusia
yang bisa berinteraksi positif dan kaya akan sikap mental yang baik.
Yang menghantarkan seseorang ke puncak keberhasilan dalam karier bukan
kompetensi saja, tapi juga elemen karakter yang positif.
SUKSES ADALAH APA YANG ANDA RASA
Ketika ditanya apa itu sukses, pasti sebagian besar orang akan
mengaitkannya dengan pencapaian materi atau harta. Itulah yang terjadi
di zaman yang serba materialistis ini.
Tidak heran, karena kita sudah terpengaruh oleh berbagai media, baik itu media cetak atau televisi (terutama film dan drama), di mana orang yang sukses itu adalah mereka yang populer, terkenal, punya sederet mobil mewah, rumah segede lapangan bola, dan uang yang tak terhitung banyaknya.
Lalu apa arti sukses yang sebenarnya?
- Kalau sukses diukur dari banyaknya uang, berarti orang yang uangnya sedikit tidak dikatakan sukses.
- Kalau sukses diukur dari rumah mewah dan besar, berarti orang yang rumahnya kecil bukan orang yang sukses.
- Kalau sukses diukur dari istri yang cantik atau suami yang tampan, berarti mereka yang punya istri kurang cantik atau suami kurang tampan dikatakan tidak sukses.
- Kalau sukses diukur dari ada tidaknya mobil, berarti orang yang tak punya mobil, tapi keluar ke mana-mana naik helikopter dan pesawat jet pribadi tidak bisa dikatakan sukses. Aneh, kan?
- Kalau sukses diukur dari banyaknya uang, berarti orang yang uangnya sedikit tidak dikatakan sukses.
- Kalau sukses diukur dari rumah mewah dan besar, berarti orang yang rumahnya kecil bukan orang yang sukses.
- Kalau sukses diukur dari istri yang cantik atau suami yang tampan, berarti mereka yang punya istri kurang cantik atau suami kurang tampan dikatakan tidak sukses.
- Kalau sukses diukur dari ada tidaknya mobil, berarti orang yang tak punya mobil, tapi keluar ke mana-mana naik helikopter dan pesawat jet pribadi tidak bisa dikatakan sukses. Aneh, kan?
Sukses bagi orang yang satu pasti berbeda dengan yang lain. Inilah yang harus kita pahami. Masalahnya adalah kebanyakan dari kita mengukur kesuksesan itu dari penilaian dan keinginan orang lain. Akibatnya kita sendiri tak tahu apa sukses yang sebenarnya bagi diri kita sendiri.
Contohnya, seorang pemuda yang menjadi dokter karena keinginan orang
tuanya. Orang tuanya begitu bangga karena keinginannya melihat anaknya
menjadi dokter akhirnya terpenuhi. Orang tuanya membanggakan anaknya
pada orang lain. Tapi pemuda itu sendiri tidak suka menjadi dokter,
bahkan benci jadi dokter. Semua itu dilakukan karena desakan atau
paksaan orang tuanya. Pertanyaannya, apakah itu sukses? Sukses bagi
orangtuanya, tapi gagal bagi pemuda itu. Inilah yang disebut
keberhasilan semu, kesuksesan palsu, pencapaian yang hampa.
Bagaimana dengan diri kita? Apa arti kesuksesan bagi diri kita sendiri? Kesuksesan adalah apa yang kita rasakan saat meraih sesuatu. Apakah itu membuat kita merasa bangga, bahagia dan antusias atau malah sebaliknya tidak merasakan apapun, merasa biasa-biasa saja bahkan tidak bahagia sama sekali?
Kalau kita merasa bangga, bahagia dan antusias, itu berarti kita meraih
apa yang benar-benar kita inginkan dari lubuk hari kita yang terdalam.
Kalau kita merasakan sebaliknya, bisa jadi semua itu karena desakan dan
keinginan dari pihak luar yang menginginkan kita seperti itu.
Saya juga pernah melihat keluarga kaya, tapi rumah tangganya terus dilanda masalah karena sang suami suka mendekati wanita lain dan bahkan sampai terperangkap dalam narkoba. Apakah itu kesuksesan? Bagi kita yang melihat sekilas, pasti menganggap mereka sukses dan kaya. Ini benar. Tapi bagi sang istri, itu adalah kegagalan besar. Baginya, lebih baik punya suami biasa-biasa tapi baik daripada punya suami kaya tapi berkelakuan buruk seperti itu.
Ingat, kesuksesan bukan apa yang orang lain rasakan, tapi apa yang Anda rasakan sendiri.
Hidup adalah hidup Anda dan sukses adalah sukses Anda. Tidak ada yang
berhak ikut campur menentukan bagaimana seharusnya Anda sukses. Untuk
apa Anda dianggap sukses bagi orang lain, tapi dianggap gagal oleh diri
sendiri? Untuk apa orang lain kagum dengan apa yang Anda capai, tapi
Anda sendiri tidak pernah bahagia menikmati hasil pencapaian Anda. What for? Ini namanya membohongi diri sendiri.
Mungkin Anda sudah mendengar ini ribuan kali. Miliki impian Anda sendiri sebelum melangkah menuju kesuksesan. Benar, kesuksesan bermula dari impian. Semua pencapaian dan hal-hal yang luar biasa di dunia ini dimulai dari impian dan hasrat yang membara. Semua itu datangnya dari apa yang Anda inginkan. Kalau impian itu datang dari apa yang orang lain inginkan, artinya Anda tidak pernah menjalani hidup Anda sendiri dengan sebaik-baiknya.
Maka dari itu, miliki impian Anda sendiri. Perjuangkan dan raihlah
kesuksesan sejati yang Anda dambakan. Pasti bisa tercapai dan
membahagiakan!
DUA PEMANCING YANG HEBAT
Diceritakan tentang sebuah kejadian yang dialami dua orang
pemancing yang sama-sama hebat, berinisial A dan B. Kedua pemancing itu
selalu mendapatkan banyak ikan. Pernah kedua pemancing tersebut
didatangi oleh 10 pemancing lain ketika memancing di sebuah danau.
Seperti biasa, kedua pemancing itu mendapatkan cukup banyak ikan.
Sedangkan 10 pemancing lainnya hanya bisa gigit jari, karena tak satu
pun ikan menghampiri kail mereka.
Kesepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu.
Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-masing di antara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika masing-masing di antara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah ikan tangkapan masing-masing di antara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu memberikan apa pun.
Persyaratan tersebut disetujui, dan mereka dengan cepat belajar tentang tehnik memancing kepada B. Dalam waktu dua jam, masing-masing di antara pemancing itu mendapatkan sedikitnya sebakul ikan. Otomatis si B mendapatkan banyak keuntungan. Di samping mendapatkan ‘bonus’ ikan dari masing-masing pemancing bimbingannya, si B juga mendapatkan 10 orang teman baru. Sementara pemancing A, yang pelit membagi ilmu, tidak mendapatkan keuntungan sebesar keuntungan yang didapatkan oleh si B.
Pesan:
Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermanfaat bila diamalkan. “Hanya dengan cara kita mengembangkan orang lain yang membuat kita berhasil selamanya,” kata Harvey S. Fire Stone. Karena tindakan tersebut di samping menjadikan kita lebih menguasai ilmu pengetahuan, kita juga mendapatkan keuntungan dari segi finansial, pengembangan hubungan sosial, dan lain sebagainya. “Jika Anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian Anda akan tercapai,” imbuh Zig Ziglar, seorang motivator ternama di Amerika Serikat.
Bentuk pemberian tak harus berupa uang, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, melainkan juga dalam bentuk kasih sayang, perhatian, loyalitas, motivasi, bimbingan dan lain sebagainya semampu yang dapat kita berikan. “Make yourself necessary to somebody. – Jadikan dirimu berarti bagi orang lain,” kata Ralph Waldo Emerson. Kebiasaan memberi seperti itu selain memudahkan kita memperluas jalinan hubungan sosial, tetapi juga membangun optimisme karena merasa kehidupan kita lebih berarti.
Kesepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu.
Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-masing di antara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika masing-masing di antara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah ikan tangkapan masing-masing di antara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu memberikan apa pun.
Persyaratan tersebut disetujui, dan mereka dengan cepat belajar tentang tehnik memancing kepada B. Dalam waktu dua jam, masing-masing di antara pemancing itu mendapatkan sedikitnya sebakul ikan. Otomatis si B mendapatkan banyak keuntungan. Di samping mendapatkan ‘bonus’ ikan dari masing-masing pemancing bimbingannya, si B juga mendapatkan 10 orang teman baru. Sementara pemancing A, yang pelit membagi ilmu, tidak mendapatkan keuntungan sebesar keuntungan yang didapatkan oleh si B.
Pesan:
Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermanfaat bila diamalkan. “Hanya dengan cara kita mengembangkan orang lain yang membuat kita berhasil selamanya,” kata Harvey S. Fire Stone. Karena tindakan tersebut di samping menjadikan kita lebih menguasai ilmu pengetahuan, kita juga mendapatkan keuntungan dari segi finansial, pengembangan hubungan sosial, dan lain sebagainya. “Jika Anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian Anda akan tercapai,” imbuh Zig Ziglar, seorang motivator ternama di Amerika Serikat.
Bentuk pemberian tak harus berupa uang, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, melainkan juga dalam bentuk kasih sayang, perhatian, loyalitas, motivasi, bimbingan dan lain sebagainya semampu yang dapat kita berikan. “Make yourself necessary to somebody. – Jadikan dirimu berarti bagi orang lain,” kata Ralph Waldo Emerson. Kebiasaan memberi seperti itu selain memudahkan kita memperluas jalinan hubungan sosial, tetapi juga membangun optimisme karena merasa kehidupan kita lebih berarti.
19 Mei, 2013
KEKUATAN DOA DAN USAHA
Suatu pagi di sebuah perkampungan miskin, tampak seorang ibu dengan
penuh semangat sedang mengolah adonan untuk membuat tempe. Pekerjaan
membuat dan menjual tempe telah digelutinya selama bertahun-tahun,
sepeninggal suaminya.
Saat membuat adonan, sesekali pikirannya menerawang pada sepucuk surat yang baru diterima dari putranya yang sedang berada jauh di daerah lain, untuk menuntut ilmu. Dalam surat itu tertulis, “Bunda tercinta, dengan berat hati, ananda mohon maaf harus mohon dikirim uang kuliah agar dapat mengikuti ujian akhir. Ananda mengerti bahwa bunda telah berkorban begitu banyak untuk saya. Ananda berharap secepatnya menyelesaikan tugas belajar agar bisa menggantikan bunda memikul tanggung jawab keluarga dan membahagiakan bunda. Teriring salam sayang dari anakmu yang jauh.”
Dua hari lagi adalah ‘hari pasaran’. Saat itulah, biasanya tempe hasil
buatan si ibu dibawa ke pasar untuk dijual. Kali ini, ia berencana
membuat tempe dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Harapannya,
ia bisa mendapatkan lebih banyak uang sehingga bisa mengirimkan biaya
kuliah ke anaknya.
Sehari menjelang hari pasar, hati dan pikiran si ibu panik karena tempe
buatannya tidak jadi. Entah karena konsentrasi yang tidak penuh atau
porsi tempe yang dibuat melebihi biasanya. Kemudian si ibu pun sibuk
berdoa dengan khusyuk di sela-sela waktu yang tersisa menjelang
keberangkatannya ke pasar. Ia memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar
diberi mukjizat: tempenya siap dijual dalam keadaan jadi. Tetapi sampai
tibanya dia di pasar, tempenya tetap belum jadi.
Sepanjang hari itu, dagangannya tidak laku terjual. Si ibu tertunduk
sedih. Matanya berkaca-kaca membayangkan nasib anaknya yang bakal tidak
bisa mengikuti ujian. Saat hari pasar hampir usai, para pedagang lain
pun mulai meninggalkan pasar. Tiba-tiba, datanglah seorang ibu. Ia
berjalan dengan tergesa-gesa.
“Bu, saya lagi nyari tempe yang belum jadi,” sapanya. “Dari tadi kok nggak ada, ya... Ibu tahu, saya harus cari ke mana?”
“Lho untuk apa, tempe belum jadi kok dicari?” tanya si ibu penjual tempe terheran-heran.
“Saya mau membeli untuk dikirim ke anak saya di luar kota. Dia sedang ngidam tempe khas kota ini!” kata si ibu calon pembeli.
Ibu penjual tempe ternganga mendengar kata-kata yang baru didengarnya.
Ia seakan tak percaya pada nasib baiknya, seolah tangan Tuhan memberi
kemurahan kepadanya. Akhirnya tempe dagangannya diborong habis tanpa
sisa. Dia begitu senang, bersyukur, dan bertambah yakin bahwa Tuhan
tidak akan pernah meninggalkan umatnya selama manusia itu sendiri tidak
putus asa dan tetap berjuang.
Netter yang LuarBiasa,
Pepatah kuno menyatakan, “Ora et labo`ra”, alias “Berusaha dan
berdoa.” Memang, doa dan usaha harus seiring dan sejalan dalam
perjalanan hidup setiap manusia. Doa dibutuhkan untuk mengingatkan kita
agar senantiasa menapak langkah di jalan benar, yang direstui oleh Yang
Maha Kuasa dan tetap mampu bersikap sabar, gigih, dan ulet saat
menghadapi segala macam halangan, rintangan dan cobaan. Doa juga mampu
memelihara antusiasme dalam memperjuangkan apa yang telah kita tetapkan
demi mewujudkan kesuksesan.
Mari, dengan segenap kekayaan mental yang optimis dan aktif, kita singsingkan lengan baju—siap bekerja keras untuk mengisi setiap hari dengan harapan baru! Semangat baru! Agar tercapai sukses yang lebih gemilang! Sukses lebih luar biasa!!
RESEPI MEMPERTAHANKAN KASIH SAYANG
Dikisahkan, di sebuah keluarga besar, ada sepasang kakek yang tampak
serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul
bersama, para cucu bertanya mendatangi mereka berdua.
“Kakek, nenek...., tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara mempertahankan cinta selama ini, agar kami yang masih muda ini bisa belajar,” kata seorang cucu.
Mendengar itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling
melempar senyuman mengasihi yang begitu kentara menyelimuti di antara
mereka. “Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,”
kata kakek.
Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai. “Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik”.
“Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di
majalah yang berjudul ‘Bagaimana Memperkuat Tali Pernikahan’. Di situ
dituliskan, masing-masing dari kita sebaiknya mencatat hal-hal yang
kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk
mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia.
Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang
tidak disukai.
Esoknya, selesai sarapan, Nenek memulai lebih dulu membacakan daftar ‘dosa’ kakekmu sepanjang kurang-lebih tiga halaman. Pikir-pikir, ternyata banyak juga ya dan herannya lagi, segitu banyak yang tidak disukai tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,” kata nenek sambil tertawa sekaligus mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.
Lalu lanjut nenek, “Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan! Dan Sekarang giliran kakekmu yang lanjut bercerita”.
Dengan suara perlahan,si kakek meneruskan, “Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetap kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.”
Nenek segera melanjutkan, “Nenek sungguh sangat tersentuh oleh
pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau
sesuatu apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar
dan mengurangi perasaan cinta kami berdua”.
Pembaca yang Luar Biasa!
Pembaca yang Luar Biasa!
Seringkali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Pada hal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.
Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini. Juga, senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup kita bisa dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian
KEBIASAAN MENYIAPKAN DIRI
Perencanaan adalah separuh dari
keberhasilan, sisanya adalah bagaimana kita bertindak. Namun, bertindak
saja belum cukup. Kita pun harus menyiapkan diri sepenuhnya, agar dalam
bertindak bisa memaksimalkan semua potensi yang ada.
Menyiapkan diri sepenuh dan seutuhnya berarti: kita harus siap
berhasil, siap pula jika terjadi kegagalan. Untuk itu, kita harus
membiasakan diri untuk menguatkan mental, pikiran, sekaligus tindakan,
sehingga setiap daya dan upaya yang dilakukan—apa pun hasil dan kondisi
yang terjadi—tetap selalu kita perjuangkan.
Menyiapkan diri memang bukan sebatas menyiapkan peralatan “perang”.
Namun, sekaligus kita menyiapkan berbagai macam kemungkinan, dari yang
terbaik hingga terburuk, sehingga kita bisa mengantisipasi semua
kejadian. Kalau baik, kita tak akan jadi jemawa dan tetap waspada. Kalau
pun buruk, kita tak akan patah arang dan tetap mau berusaha.
Mari, biasakan diri menyiapkan diri sepenuhnya. Kuatkan tekad, fokuskan niat, sadarkan diri untuk terus berbuat, yang terbaik, yang kita bisa, yang kita yakini. Apa pun hasilnya, dengan kesiapan diri, kita telah menjadi sang pemenang sejati. Salam sukses, Luar Biasa!!
CAHAYA KEHIDUPAN
Alkisah, Putri diterima di perguruan tinggi dan harus pindah ke luar
kota. Orangtuanya membelikan sebuah rumah mungil yang sudah
direnovasi—selain untuk investasi, juga untuk membantu kelancaran putri
semata wayangnya yang sekarang mulai duduk di bangku kuliah. Sebagai
anak tunggal, semua kebutuhan Putri disediakan oleh orangtuanya, bahkan
tanpa diminta sekalipun.
Setelah pindah beberapa hari, Putri sadar, di sebelah tempat tinggalnya ada rumah yang tampak sangat sederhana, dengan tiga orang penghuni di dalamnya—seorang ibu muda dengan dua anaknya.
Suatu malam, terjadi hal yang tidak diinginkan. Lampu mati! Putri
segera meraih telepon genggamnya dan menyalakan layar untuk menerangi
sekitarnya. “Huuh…..apa-apaan nih! Mana mau ngerjain tugas, pakai mati
lampu segala!” keluh Putri dengan perasaan jengkel.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu berulang-ulang diikuti teriakan nyaring, “Kakaaak... Kakaaak!” Putri membalas berteriak dari dalam, “Hai… Siapaaaa?”
“Saya. Kak. Anak sebelah rumah. Kakak punya lilin..?”
Sambil berjalan menghampiri pintu, Putri sempat berpikir, “Anak sebelah tuh, jangan-jangan mau minta-minta. Nanti jadi kebiasaan minta deh.” Jadi segera dijawab, “Tidak punyaaa!”
“Tolong buka pintunya Kak,” kata anak itu mengulang, bertepatan ketika si Putri telah di ambang pintu, dan membukanya.
“Kak, saya dan mama khawatir.. Di sini kan sering mati lampu. Kakak orang baru, pasti belum tersedia lilin. Ini Kak, mama menyuruh saya untuk membawakan lilin untuk kakak,” seraya tangan mungilnya mengangsurkan 2 batang lilin ke arah Putri.
Putri sejenak terpana, dia segera jongkok dan memeluk tubuh mungil di
hadapannya sambil mengeluarkan suara tercekat. “Terima kasih, adik
kecil. Tolong sampaikan ke mamamu ya, terima kasih..”
Putri malu pada dirinya sendiri yang telah berpikiran jelek dan tidak menyangka bahwa tetangganya yang tampak begitu sederhana justru menunjukkan kebesaran jiwa dengan mengkhawatirkan dirinya dan bahkan memberi lilin, seolah cahaya kehidupan. Bukan seperti pemikirannya, bahwa si miskin yang datang mengetuk pintu pasti bertujuan untuk mengganggu dan meminta tolong atau menyusahkan kita saja.
Perasaan tidak nyaman dan prasangka buruk sering kali menguasai saat teman atau kerabat yang tidak mampu mengetuk pintu rumah kita atau menghubungi kita. Jangan-jangan.. cuma mau minta tolong. Sesungguhnya, jika ada teman atau kerabat yang sedang kesusahan, bukankah kita sedang diberi kesempatan untuk berbuat baik? Seperti hukum alam mengajarkan filosofi "tabur-tuai". Tanpa menabur kebaikan, bagaimana mungkin kita berharap bisa menuai kebaikan di masa depan? Mari kita melatih dan membiasakan jika ada kesempatan membantu orang lain. Tentu merupakan suatu kebahagiaan jika ada kesempatan untuk meringankan beban orang lain
Langgan:
Catatan (Atom)